Tragedi Bintaro I

December 12, 2016 0 Comments



 Tragedi Bintaro adalah peristiwa kecelakaan tragis yang melibatkan dua buah kereta api didaerah pondok betung, Bintaro Jakarta Selatan, pada tanggal 19 Oktober 1987 yang merupakan musibah terburuk dalam sejarah perkretaapian di Indonesia.


Sebuah kereta api ekonomi patas jurusan Tanah Abang-Merak yang berangkat dari Stasiun Kebayoran bertabrakan dengan kereta api cepat jurusan Rangkasbitung-Jakrta Kota yang berangkat dari stasiun Sudimara, peristiwa ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan paling buruk dalam sejarah transportasi di Indonesia.

Penyelidikan setelah kejadian menunjukan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang membiarkan sinyal aman bagi kereta dari arah rangkas bitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran, Hal ini karena tidak ada jalur yang kosong di stasiun Sudimara.


Lokasi 

Kecelakaan tejadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, sebelah utara Sekolah Menengah Umum Negrei 86 Bintaro. Didekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan "S", berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara.

Peristiwa Kecelakaan


Peristiwa bermula atas kesalahan kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Sehingga, ketika KA 225, jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota, tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 06:45 WIB, Stasiun Sudimara yang punya 3 jalur saat itu penuh dengan KA.
  • Jalur 1: KA 225
  • Jalur 2: KA Indocement hendak ke arah Jakarta juga
  • Jalur 3: Gerbong tanpa lokomotif
KA 225 Sedianya bersilang dengan KA 220 patas di Stasiun Kebayoran yang hendak ke Merak, itu berarti KA 220 patas di Stasiun Kebayoran harus mengalah, namun PPKA Stasiun Kebayoran tidak mau mengalah dan tetap memberangkatkan KA 220. PPKA Stasiun Sudimarapun lantas memerintahkan juru langsir untuk  melangsir KA 225 masuk jalur 3.
Saat akan dilangsir, masinis tidak dapat melihat semboyan yang diberikan, karena penuhnya lokomotif pada saat itu. Kemudian, masinis bertanya kepada penumpang yang berada dilokomotif, "Berangkat??" maka penunmpanh pun menjawab, "Berangkat!!".

Masinispun membunyikan semboyan 35. Juru langsir yang kaget mengejar kereta itu dan naik gerbong belakang, para petugas stasiun kaget, beberapa ada yang mengejar kereta itu menggunakan sepeda motor. PPKA Sudimar, Djamri, mencoba memberhentikan kereta dengan menggerak gerakan sinyal, namun tidak berhasil. Dia pun langsung mengejar kereta itu dengan mengibarkan bendera merah. Namun sia-sia, Djamhari pun kembali kestasiun dengan sedih,dia membunyikan semboyan genta darurat kepada penjaga perlintasan Pondok Betung. Tetepi kerta tetap melaju, setelah diketahui ternyata penjaga perlintasan Pondok Betung tidak hafal semboyan genta.

KA 220 berjalan dengan kencang 25 km/jam karena baru melewati perlintasan, sedangkan KA 225 berjalan dengan kecepatan 30 km/jam. Dua kereta api sama-sama sarat akan penumpang, Senin pagi itu bertabrakan di tikungan S ±km 18,75 kedua kereta hancur, terguling, ringsek, kedua lokomotif dengan seri BB303 16 rusak berat, jumlah korban 156 orang, dan ratusan penumpang luka-luka.


Sanksi Atas Kelalaian Pihak Yang Terlibat

Akibat tragedi tersebut, sang masinis KA225, Slamet Suradio, di Ganjar 5 tahun kurungan. Ia juga harus kehilangan pekerjaan, sehingga ia memilih pulang ke kampung halamannya, menjadi, petani di Purworejo, kini menjadi penjual rokok di Kutoharjo. Sebelumnya, dia telah bekerja selama 20 tahun di PJKA. Nasib  yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Dia harus mendekam dipenjara 2 tahun 6 bulan. Sedangkan  Umrihadi (Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama) dipenjara selama 10 bulan.

Karya Budaya Yang Populer Diciptakan Dari Peristiwa Ini

  • Iwan Fals menulis lagu berjudul 19/10 atau 1910 (diucapkan : sembilan belas-sepuluh, berarti 19 Oktober) mengenai Tragedi.
  • Ebit G Ade terinspirasi menulis lagu Masih Ada Waktu dari peristiwa kecelakaan.
  • Pada 1989 Peristiwa ini diangkat sebagai sebuah film yang berjudul Tragedi Bintaro.
Berikut Cuplikan Filmnya...







{Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Bintaro}
{Sumber film Bico Story: https://www.youtube.com/watch?v=5zy9DQXOkQY}

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 comments: